Thursday, 11 Jun 2026 | WIB
Z
<

Rupiah Kian Terpuruk! Tembus Rp17.845 per Dolar AS, Tekanan Pasar Global Makin Berat

Reporter: Topan Prakasa Editor: Takar Praguna.SIkom 02 Jun 2026 11:43 WIB
Rupiah Kian Terpuruk! Tembus Rp17.845 per Dolar AS, Tekanan Pasar Global Makin Berat

JAKARTA, MENAKAR.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (2/6/2026) siang. Berdasarkan data pasar spot hingga pukul 12.00 WIB, mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.845 per dolar AS.

Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 0,3 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.835 per dolar AS.

Pergerakan ini menandakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah dinamika pasar keuangan global dan regional.

Sepanjang perdagangan sesi pertama, mata uang di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi.

Sejumlah mata uang mengalami pelemahan terhadap dolar AS, sementara sebagian lainnya mampu mencatatkan penguatan tipis.

Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia setelah terkoreksi sekitar 0,42 persen. Diikuti won Korea Selatan yang melemah 0,21 persen serta rupee India yang turun 0,18 persen.

Sementara itu, yen Jepang juga berada di zona merah dengan penurunan sekitar 0,04 persen. Dolar Hong Kong turut mengalami pelemahan meskipun dalam skala terbatas, yakni sekitar 0,008 persen terhadap mata uang AS.

BACA JUGA

Di sisi lain, baht Thailand tampil sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia pada perdagangan siang hari. Mata uang Negeri Gajah Putih tersebut menguat sekitar 0,22 persen terhadap dolar AS.

Peso Filipina juga mencatat kenaikan sebesar 0,08 persen, disusul yuan China yang terapresiasi sekitar 0,06 persen. Dolar Singapura turut bergerak positif dengan penguatan sekitar 0,04 persen.

Adapun ringgit Malaysia cenderung bergerak stabil dan tidak menunjukkan perubahan signifikan hingga pertengahan perdagangan berlangsung.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta arus modal asing yang masih fluktuatif di pasar negara berkembang.

Analis menilai pergerakan nilai tukar saat ini masih dipengaruhi sentimen eksternal, termasuk kekuatan dolar AS yang relatif bertahan tinggi dibandingkan sejumlah mata uang dunia.

Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan yang cukup besar.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati berbagai indikator ekonomi domestik yang dapat menjadi penopang stabilitas rupiah dalam jangka menengah.

Faktor inflasi, cadangan devisa, neraca perdagangan, hingga kebijakan moneter Bank Indonesia akan menjadi perhatian utama investor dalam beberapa waktu ke depan.

Pergerakan rupiah yang mendekati level psikologis baru juga menjadi sorotan pelaku usaha dan sektor industri karena berpotensi memengaruhi biaya impor, harga bahan baku, serta dinamika perdagangan nasional apabila tren pelemahan berlanjut.

BACA JUGA
Bagikan: