Friday, 10 Jul 2026 | WIB
Z
<

Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.860 per Dolar AS, Sentimen Damai AS-Iran Jadi Pendorong Utama

Reporter: Topan Prakasa Editor: Takar Praguna.SIkom 12 Jun 2026 13:44 WIB
Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.860 per Dolar AS, Sentimen Damai AS-Iran Jadi Pendorong Utama

JAKARTA, MENAKAR.COM – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026).

Mata uang Garuda berhasil menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah membaiknya sentimen pasar global dan meningkatnya optimisme investor terhadap stabilitas geopolitik internasional.

Pada perdagangan sore, rupiah ditutup di level Rp17.860 per dolar AS atau menguat 128,5 poin setara 0,71 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), mencatat nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp17.921 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi seiring menguatnya mayoritas mata uang di kawasan Asia. Baht Thailand tercatat naik 0,43 persen, yuan China menguat 0,20 persen, peso Filipina menguat 0,92 persen, dan won Korea Selatan melonjak hingga 1,05 persen.

Di sisi lain, yen Jepang menjadi satu-satunya mata uang utama Asia yang mengalami pelemahan tipis sebesar 0,05 persen.

Mata uang regional lainnya juga menunjukkan tren positif. Dolar Singapura menguat 0,09 persen, sementara dolar Hong Kong naik tipis 0,01 persen pada penutupan perdagangan.

BACA JUGA

Tidak hanya di Asia, mata uang negara-negara maju juga bergerak di zona hijau. Euro menguat 0,07 persen terhadap dolar AS, poundsterling Inggris naik 0,04 persen, dan franc Swiss menguat 0,03 persen.

Dolar Australia dan dolar Kanada juga mencatat penguatan masing-masing sebesar 0,01 persen.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik yang mendorong meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko atau risk on sentiment.

Menurutnya, harapan tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memicu optimisme pasar keuangan global.

"Rupiah ditutup menguat cukup tajam terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on di pasar global maupun domestik oleh harapan tercapainya perdamaian AS-Iran," ujar Lukman Leong.

Selain faktor eksternal, kondisi dalam negeri yang relatif stabil juga turut memberikan dukungan terhadap penguatan mata uang nasional.

Lukman menilai situasi domestik yang tetap kondusif membuat kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung.

Pergerakan positif rupiah ini menjadi kabar baik bagi perekonomian nasional karena berpotensi membantu menekan tekanan inflasi impor, menjaga stabilitas harga barang, serta meningkatkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan geopolitik global, arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia, serta dinamika arus modal asing yang berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

Penguatan rupiah pada akhir pekan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pasar keuangan Indonesia masih memiliki daya tahan yang cukup kuat di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda.

BACA JUGA
Bagikan: